Senin, 10 Desember 2012
Pindah Haluan
Sampit, Juli 2009
Hanya diam. Gejolak dihatinya begitu berkecamuk. Konflik batin yang selama ini berperang dihatinya akhirnya mencapai klimaks. Ia tak tahu apakah pilihan yang akan ia ambil ini akan membawa keberuntungan atau malah membawa siksaan baru bagi hidupnya.
''Gimana Ki? udah ada keputusan?'' tanya ayah Hengki kembali. ''Nggak tahu Yah. saya takut, bagaimana bila keputusan yang akan saya ambil ini salah?'' Hengki menjawab ragu. ''Bagaimana kamu bisa menilai ini benar atau salah jika kamu belum melakukannya. ambil lah nak. putuskan satu pilihan yang terbaik menurutmu.'' jawab Ayah sembari pergi menuju kamar. ''Belum yah, saya belum bisa.'' jawab Hengki didalam hati.
Hengki kembali diam. tubuhnya yang sedari tadi kaku kini membeku. Ia sungguh tak tahan. lalu ia memaksakan untuk berdiri dan mengurung diri seharian dikamar, tempat yang menurutnya paling nyaman untuk tidak diajak bicara seharian.
Dari dalam kamar, nampak kedua orangtua Hengki sedang terlibat dalam keheningan super yang kemudian menjelma menjadi pembicaraan serius. ''Jadi Hengki gimana?'' Ibu memecah keheningan sambil melipat tumpukan baju. ''Ga tau tuh, masih bingung kayanya.'' Ayah menanggapinya kaku, mencoba untuk sebisa mungkin rileks. ''Tapi kan Hengki itu masih kecil Yah, masa iya harus udah pisah dari kita lagi.'' Ibu melemparkan argumennya tajam. ''Iya Bu, Ayah ngerti soal itu. Tapi bukannya lebih baik jika anak kita ini mendapat ilmu yang lebih layak ditempatnya nanti?'' Ayah mencoba memberi penjelasan. "kalo soal ilmu sama Ibu juga bisa. Ga harus jauh-jauh pergi." Ibu mulai menaikkan nadanya dan tanpa ia bisa tahan matanya memanas. ''Bu... ini demi nama baik keluarga kita juga.'' ''terserah.'' Ibu melipat lipatan bajunya yang terakhir lalu pergi meninggalkan Ayah sendiri dikamar.
Siang itu seluruh sudut rumah minimalize ini sekejap menjadi hening. dan keheningan ini menjelma menjadi kebekuan yang berlanjut hingga keesokan hari.
Di hari berikutnya, siang itu dimeja makan. hanya ada Ayah, Ibu dan Hengki. sementara Risa, adik Hengki memilih tidak ikut makan siang bersama karena ia tahu akan terjadi hal besar yang ia sangat benci untuk melihatnya.
''Jadi gimana nih?'' Ayah memulai pembicaraan. Hengki tak bisa menjawab, ada yang besar yang menghalang ribuan kata-kata dimulutnya untuk keluar. ''Kalo kamu belum siap, udah dirumah aja. sama kita. Ibu juga bisa kok ngajarin apa yang kamu mau.'' dengan tenang ibu mencoba meyakinkan Hengki agar ia tetap dirumah. Karena ia tahu, ia belum siap mengahadapi kepergian anak paling besarnya untuk mencari yang katanya masa depan. ''Aku siap.'' suara Hengki sentak mengejutkan kedua orangtuanya. ada perasaan lega dari ayah sementara ibu melempar beribu rasa khawatir didalam raut wajah yang ia lemparkan kepada Hengki. Hengki lalu pergi, meninggalkan ikan bakar yang sama sekali ia belum sentuh.
Malam harinya dikamar Hengki
Hengki masih tak percaya dengan apa yang ia katakan tadi siang didepan kedua orangtuanya. sambil membereskan baju-baju yang akan ia bawa pergi Hengki terus berangan-angan akan apa yang ia akan dapat nanti. Ibu tiba-tiba masuk, dan tanpa banyak bicara ia membantu Hengki untuk membereskan barang. nampak sekali raut wajah sedih yang terpancar dari Ibu, tetapi Ibu memilih diam karena ia tak mau membuat anak pertamanya ini kembali ragu. ''Gimana udah semuanya?'' tanya Ibu membuyarkan lamuman Hengki. ''mmmm dikit lagi Bu...'' jawab Hengki. ''periksa lagi ya, jangan sampai ada yang ketinggalan. kalau kamu mau, bawa seperlunya saja, sisanya nanti ibu akan paketkan'' Ibu mengingatkan sambil melihat sekitar. ''Iya Bu..'' jawab Hengki singkat. ''kalau sudah beres langsung tidur ya nak.. besok kamu akan melakukan perjalan panjang.'' Hengki hanya diam tak menjawab, ibu pun mengakhiri percakapan dengan keluar dari kamar Hengki.
Sambil melamun ditempat tidur mungilnya, Hengki kembali teringat tentang masa kecilnya, tentang impiannya. Hal sepele yang saking sepelenya sampai sering kali terlupakan olehnya. Hengki kecil sangat bermimpi untuk jadi astronot atau bekerja diperusahaan pesawat atau saat lebih kecil lagi, ia pernah bermimpi menjadi seorang hansip. ingatan-ingatan yang kembali muncul itu secara tak sengaja menggoreskan senyum kecil pada pipinya. Ia tampak lebih mantap untuk memilih karena ini, karena ini jalan menuju impian masa kecilnya. tapi tentu tidak untuk menjadi hansip.
Sayup-sayup terdengar suara Ayah mengangkat telepon dari ruang tengah, suaranya terdengar berbisik-bisik, tak lama setelah Ayah mengangkat telepon ''Kiiiii... siniii!! ada telepon dari Emak (sebutan untuk nenek)". Ia terkejut mendengar teriakan itu dan langsung beranjak dari kamarnya. ''Iya Yah?'' tanya Hengki, ''ini, ada telepon dari Emak'' jawab Ayah sembari memberikan gagang teleponnya. ''Halloo... assalamu'alaikuum??'' nampak suara Emak mulai berbicara, "Iya Mak? wa'alaikumsalaam..'' Hengki menjawab. "Hengkiiii, gutten morgen!!'' sapa Emak. ''Mak....'' ''Eh ko ga dijawab salamnya?" "Mak, ini sudah malam. gutten morgen itu selamat pagi...." ''tapi Emak baru belajar tadiiii, masa salah'' jawab Emak setengah memberi pembelaan. "Iya deh Mak, gutten nacht too...." Jawab Hengki tak ingin memperpanjang debat tak penting ini. "gitu doong! gimana Ki? jadi ngga pindah kesini?" Emak mulai serius, "Jadi Mak, besok Hengki berangkat sama Ayah, pake travel dulu baru nanti sambung pesawat.'' jawabnya cepat. "Nah, ini baru cucu Emak, pem-be-ra-ni'' jawabnya sambil melakukan penekanan. ''Pokoknya, kamu gausah repot-repot deh. bawa seperlunya aja, nantu sisanya kan bisa dipaketin. biar ga berat. eh iya, kamar kamu nanti udah Emak beresin tuh, udah cakep hehehe" "iya Mak, ibu juga berkata begitu. iya makasih Mak, semoga ga ngerepotin deh..'' ucap Hengki, ''ooh engga ko Ki. Emak malah seneng disini ada yang nemenin. Jadinya kan lebih rame. Oke udah dulu ya, kamu juga kayanya butuh istirahat'' ''iya Mak, terimakasih banyak" "no problemoo Hengki" Emak memulai bahasa sok taunya lagi, "Wassalamu'alaikuum" ucapnya lembut. "wa'alaikumsalaam" jawab Hengki. Dan telepon itu pun menutup kegiatan di malam terakhirnya di kota ini.
HARI H ------ Sampit, Juli 2009
Pagi itu, semua anggota keluarga kecil ini berkumpul untuk sarapan dimeja makan. Hengki, Ayah, Ibu dan Risa. semua tampak tak ingin melewatkan moment-moment terakhir ini. Baik Hengki maupun yang lainnya hanya diam. Bagi Hengki, ini kali terakhirnya makan bersama di tahun ini, di meja penuh kenangan ini, dalam suasana ini dan terlebih ini menjadikan Soto Banjar buatan Ibu yang terakhir begitu spesial. Ia tak tahu kapan lagi bisa kembali dengan orang yang sama, rumah yang sama, meja yang sama dan aroma khas Soto Banjar yang sama, ya Soto Banjar buatan Ibu yang memang menjadi masakan kesukaannya disini.
''Gimana? semua udah siap kan? ayah menyuap suapan terakhirnya dan bersiap untuk mengecek semuanya lagi. ''Sudah Yah...''jawab Hengki, ia nampak belum ingin beranjak. "Yasudah, kamu habiskan dulu sarapanmu, Ayah ingin mengecek semuanya dulu.'' Jawab Ayah sembari beranjak. Hengki tak menjawabnya, Ia hanya ingin diam menikmati soto terakhirnya ini.
Satu jam berlalu, travel yang tidak ditunggu-tunggu itu akhirnya tiba untuk menjemput. Ya, sistem travel disini memang agak berbeda dengan yang di kota-kota besar. Disini, travel lah yang menjemput para penumpang berbeda dengan di perkotaan dimana para penumpang harus datang sendiri ketempat travel transit.
Semua barang sudah dinaikkan ke mobil, dan sisaanya akan menyusul dipaketkan nanti. Ayah sudah berpamitan dengan anggota keluarga yang lain untuk berpamitan mengantar Hengki, sementara Hengki masih duduk membisu dikursi ruang tamu. ''Hengki... sini..'' Ibu memanggilnya sangat lembut. Hengki berdiri, nampak sekali beribu kata ingin keluar dari mulutnya. namun Ia tak bisa, sesuatu menahan kerongkongannya.
"kamu....... hati-hati ya..." hati Ibu bergetar mengucapkan kata ini. tubuhnya yang sedari tadi mencoba rileks kini ikut bergetar. matanya ikut memanas. Hengki belum bisa berkata apa-apa. seseorang yang begitu dicintainya dan kini ia harus berpisah dan entah kapan akan kembali lagi. keduanya hanya terdiam kali ini, maa mereka nampak berkaca-kaca, sekejap Ibu merangkul tubuh Hengki dan rangkulan itu berbalas. Mungkin hanya lewat rangkulan ini Hengki dapat berbicara, rangkulannya bertambah erat. seolah tak ingin dilepas dan tetes air itu perlahan membahasi pipinya. Ia tak kuat lagi, rangkulannya kian bertambah erat seiring tetesan air yang semakin deras membahasi pipinya. Ibu nampak begitu bergetar merasakan ini, tubuhnya serasa memanas, namun ia berusaha tegar dan membuat Hengki tenang. ''Sudah, jangan nangis. kan jagoan Ibu, masa nangis....'' Ibu menggoda. namun godaan itu membuat tangisan Hengki bertambah deras, ia sungguh tak ingin berpisah. Kali ini, sesuatu menyadarkan Hengki, ia berusaha mengatur nafas. ''ibu, maafin saya. kapan-kapan ibu jangan lupa maen kesana, ya" jawab Hengki berbisik. Ibu hanya tersenyum, senyum yang terasa begitu pahit untuk sebuah perpisahan.
''Hengki, ayooo!'' Ayah memanggil dari luar mencoba mencairkan suasana. pelukan itu akhirnya terlepas. Hengki mencoba kuat dan beranjak keluar diikuti ibu.
Hengki kali ini sungguh berpamitan, kemudian ia masuk ke dalam mobil. Ibu, sekali lagi hanya bisa tersenyum pahit untuk melepas kepergian anaknya.
Berbekal surat hasil ujian nasional. Mobil itu akhirnya pergi. Tujuannya adalah Bandung, kota dimana segala macam kreativitas berawal. kota yang menurutnya sangat mewah. layaknya di film-film ketika sesuatu pergi maka kenangan-kenangan yang menyertainya akan berputar diingatannya. begitu pula yang Hengki alami kini, semua berputar yang menambah kian pahit batinnya. hutan, batu licin, suara burung, teman-temannya, ibu, buah suli, dan bahkan durian. dalam benaknya ia berfikir dan teringat, ia tak bisa lagi masuk kedalam hutan untuk mengambil durian sepuasnya didalam sana. semua, berputar terus dan terus selama perjalanan. dan hal paling mujarab yang bisa Hengki lakukan untuk menghindari itu semua adalah, tidur.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar